KONAWE SELATAN, ElindoNews.id – Kabar berhentinya operasional PT Wijaya Inti Nusantara (WIN), di Kecamatan Laeya Kabupaten Konawe Selatan (Konsel) Sulawesi Tenggara (Sultra), menjadi duka mendalam sekaligus ujian berat bagi ribuan orang yang selama ini menjadikan perusahaan ini sebagai tumpuan hidup.
Bagaimana tidak!, selama lebih dari satu dekade berdiri di wilayah ini, PT WIN tidak hanya hadir sebagai unit usaha yang mencari keuntungan, melainkan bagian tak terpisahkan dari kehidupan sosial ekonomi masyarakat, mitra setia pembangunan desa, dan penyumbang harapan bagi banyak keluarga.

Jejak Kebaikan dan Bantuan yang Selalu Dihadirkan PT WIN
Sebelum berhenti beroperasi, PT WIN dikenal sangat konsisten menjalankan tanggung jawab sosial dan kemitraan dengan masyarakat sekitar. Dana CSR yang disalurkan setiap tahunnya menyentuh berbagai aspek kebutuhan warga, mulai dari pendidikan, fasilitas umum, hingga bantuan darurat,
Bidang Pendidikan:
Setiap tahun memberikan beasiswa bagi Ratusan siswa-siswi berprestasi dan kurang mampu dari tingkat SD hingga Perguruan Tinggi di, selain itu juga membangun dan merenovasi puluhan ruang kelas sekolah serta menyediakan ribuan paket alat tulis dan perpustakaan desa.
Fasilitas Umum dan Ibadah:
Membangun dan merenovasi masjid, membuka akses jalan desa sepanjang 17 km yang terputus saat musim hujan, serta menyediakan air bersih bagi dusun yang selama ini kesulitan mendapatkan sumber air.
Bantuan Sosial dan Bencana:
Selalu hadir saat terjadi musibah mulai dari banjir, kebakaran, hingga bantuan sembako bagi warga kurang mampu setiap hari raya, serta bantuan biaya pengobatan bagi warga yang mengalami sakit berat.
Pemberdayaan Ekonomi:
Memberikan pelatihan keterampilan menjahit, pengolahan hasil tani, serta bantuan modal usaha bagi kelompok tani dan UMKM lokal.
“Banyak sekolah di desa kami dulu atapnya bocor, lantainya tanah. Sekarang sudah layak pakai berkat bantuan PT WIN. Anak-anak yang tidak sanggup bayar sekolah juga terbantu beasiswa mereka. Kehadiran perusahaan ini benar-benar mengubah wajah desa kami,” ungkap Annas salah satu warga desa Torobulu.

Ribuan Pekerja Terancam Kehilangan Sumber Nafkah
Dampak paling terasa langsung dirasakan oleh tenaga kerja. Data sementara mencatat lebih dari 820 karyawan tetap, ditambah ribuan pekerja harian, tenaga borongan, dan mitra kontrak kini terancam kehilangan pekerjaan. Sebagian besar dari mereka telah bekerja di perusahaan ini selama 5 hingga 15 tahun, mulai dari tenaga operasional, teknisi, petugas keamanan, hingga staf administrasi.
“Saya sudah kerja di sini 12 tahun. Gajinya cukup untuk biaya sekolah dua anak dan cicilan rumah. Tiba-tiba operasional berhenti, tidak tahu harus cari makan ke mana. Sekarang kami bantu-bantu di kebun tetangga apa saja yang penting dapat beras,” cerita Amir, salah satu karyawan yang enggan difoto.
Sebagian pekerja pendatang mulai berkemas pulang ke kampung halaman di luar Sultra, sementara warga lokal berusaha bertahan beralih ke sektor pertanian meski pendapatannya jauh lebih kecil.
Menurut Amir, Kehadiran PT WIN telah memberikan banyak hal baik bagi masyarakat lingkar tambang.
“Kini saatnya kami saling bahu-membahu. Kami berharap ada jalan keluar terbaik, bukan hanya menyelamatkan perusahaan, tapi juga menyelamatkan masa depan ribuan keluarga yang telah menjadi bagian dari perjalanan panjang perusahaan ini,” harapnya.
Roda Ekonomi Lokal Melambat Drastis
Kehadiran PT WIN selama ini menjadi “jantung” ekonomi di wilayah kecamatan Laeya. Pedagang makanan, angkutan umum, penginapan, toko kelontong, hingga penyedia jasa kebersihan kini merasakan dampaknya. Omzet pedagang di pasar lokal turun rata-rata 50–65 persen hanya dalam waktu dua minggu.
Belum lagi ratusan UMKM lokal yang menjadi mitra pemasok, mulai dari bahan bangunan, alat tulis, kebutuhan kantor, hingga penyedia katering kini menghadapi kesulitan arus kas. Beberapa pelaku usaha mengaku masih menunggu pembayaran tagihan yang belum terselesaikan.

Pendapatan Daerah dan Program Pembangunan Terancam
Bagi Pemerintah Kabupaten Konawe Selatan, PT WIN merupakan salah satu penyumbang Pajak Daerah dan Retribusi terbesar kedua di sektor industri. Berhentinya operasional berpotensi menurunkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) hingga miliaran rupiah pada tahun ini. Akibatnya, beberapa program prioritas pembangunan desa yang mengandalkan bagi hasil dana kemitraan perusahaan harus ditunda atau disesuaikan.
Warga juga mulai khawatir program bantuan rutin seperti beasiswa sekolah, pemeliharaan fasilitas umum, dan pelatihan keterampilan yang biasa disalurkan perusahaan akan terhenti.
Langkah Antisipasi dan Harapan Pemulihan
Pemerintah Kabupaten Konawe Selatan melalui Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) kini bergerak cepat memetakan jumlah pekerja dan mitra usaha yang terdampak. Pemerintah berjanji memfasilitasi.
Kepala Disnakertrans Erna Yustina, mengaku akan segera memastikan apakah pekerja telah memperoleh pemberitahuan mengenai PHK, apakah telah dilakukan perundingan bipartit antara perusahaan dan pekerja atau serikat pekerja.
Mantan Kabag Protokol Setda Konsel ini juga akan memastikan, apakah hak-hak pekerja telah dihitung dan dibayarkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
“Tentu kita akan segera berkoordinasi dengan pihak perusahaan apakah terdapat Perjanjian Kerja, Peraturan Perusahaan, atau Perjanjian Kerja Bersama (PKB) yang harus menjadi dasar pertimbangan, dan apakah terdapat indikasi diskriminasi, intimidasi, atau tindakan PHK yang bertentangan dengan ketentuan hukum,” ungkap Erna.







