KONAWE SELATAN, ElindoNews.id – Di bawah langit cerah Desa Andoolo Utama, Kecamatan Buke, Kabupaten Konawe Selatan (Konsel), suasana haru dan khidmat menyelimuti halaman Pondok Pesantren Minhajut Thullab. Kamis,14 Mei 2026.
Gedung-gedung pendidikan yang berdiri kokoh itu seolah turut menyaksikan perjalanan panjang 18 tahun lembaga ini menempa ribuan generasi muda. Perayaan Tasyakur Milad ke-18 yang dirangkaikan dengan Wisuda Santri Al-Qur’an, menjadi momen bersejarah yang kian istimewa dengan kehadiran dua pemimpin daerah Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra), Dr. Hugua, dan Bupati Konsel, Irham Kalenggo.
Langkah mereka serentak, dukungan mereka searah, menjadi sinyal kuat bahwa dunia pendidikan berbasis pesantren adalah prioritas utama pembangunan di wilayah ini.
Bukan sekadar seremoni, acara ini menjadi wadah pertemuan lintas elemen bangsa. Tampak hadir jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Kepala Kanwil Kementerian Agama Sultra H. Mansur, jajaran Kemenag Konsel, serta para pendiri pondok pesantren se-Konawe Selatan. Semua berkumpul dengan satu tujuan, yaitu merayakan prestasi, menanam harapan, dan merancang masa depan generasi santri.
Pesantren: Garda Terdepan Harmoni dan Peradaban
Dalam sambutannya, Kepala Kanwil Kemenag Sultra, H. Mansur, menempatkan pondok pesantren sebagai pilar penting keutuhan bangsa. Baginya, pesantren bukan hanya tempat menuntut ilmu agama, melainkan laboratorium moderasi beragama yang menjaga harmoni di tengah keberagaman.
“Pondok pesantren harus menjadi penjaga utama moderasi beragama, sekaligus menjadi arsitek yang membangun peradaban beragama yang inklusif, damai, dan saling menghargai,” tegas H. Mansur di hadapan ribuan hadirin.
Ia pun tak lupa memberikan apresiasi mendalam kepada Bupati Irham Kalenggo. Menurut Mansur, kepemimpinan Irham memiliki keistimewaan tersendiri karena sangat responsif dan peka terhadap aspirasi serta kebutuhan dunia pesantren.Perhatian yang tidak hanya bersifat seremonial, tetapi nyata dan menyentuh akar permasalahan pendidikan di tingkat akar rumput.
Janji Bupati: Pintu Program Pemerintah Terbuka Lebar untuk Santri
Bagi Bupati Konsel, Irham Kalenggo, kehadirannya di Minhajut Thullab adalah wujud nyata komitmennya. Ia memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada yayasan dan seluruh pengasuh yang selama 18 tahun konsisten berjuang mendidik anak bangsa, membentuk karakter, dan menempa akhlak mulia. Bagi Irham, kontribusi pesantren bagi daerah tak ternilai harganya.
Namun, Irham tidak berhenti pada pujian. Di hadapan para santri, pengasuh, dan masyarakat, ia membuat satu keputusan penting yang langsung menggema kebahagiaan. Ia menginstruksikan jajarannya untuk segera merevisi Peraturan Bupati terkait program bantuan baju sekolah gratis. Tujuannya agar para santri yang menuntut ilmu di pondok pesantren turut merasakan manfaat program yang telah ia canangkan sejak awal memimpin.
“Saya menginstruksikan kepada seluruh jajaran untuk mengubah perbub tersebut. Anak-anak kita yang bersekolah di pondok pesantren harus mendapatkan hak yang sama, harus merasakan program yang saya janjikan semenjak masa kampanye dulu. Tidak boleh ada pembedaan, karena mereka juga putra-putri terbaik Konawe Selatan,” janji Irham dengan nada penuh tekad.
Pernyataan itu disambut riuh tepuk tangan. Bagi para santri, ini bukan sekadar soal seragam, melainkan bentuk pengakuan bahwa keberadaan mereka diakui, didengar, dan didukung penuh oleh pemerintah daerah.
Pesan Wagub: Hafalan Al-Qur’an Harus Hidup dalam Perilaku
Senada dengan Bupati, Wakil Gubernur Sultra, Dr. Hugua, hadir membawa pesan yang mendalam, khususnya bagi para wisudawan dan wisudawati yang baru saja menamatkan hafalan Al-Qur’an metode Bin Nadlor dan Bil Ghoib. Baginya, capaian menghafal 30 juz adalah prestasi luar biasa, namun ada tanggung jawab besar yang menyertai gelar itu.
“Wisuda hari ini bukanlah garis akhir, melainkan titik awal tanggung jawab yang lebih besar. Saya berharap generasi santri Minhajut Thullab tidak hanya menyimpan hafalan di dalam dada, tetapi mampu mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Jadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk langkah, cahaya pikiran, dan akhlak yang tercermin dalam setiap perilaku,” pesan Dr. Hugua dengan tatapan penuh harap.
Ia meyakini, santri adalah aset strategis provinsi. Di tangan para santrilah, masa depan Sulawesi Tenggara akan dibangun dengan iman, ilmu, dan amal.
Kemandirian dan Langkah ke Depan
Pengasuh Ponpes Minhajut Thullab, KH. Wildan Habibi, dalam laporannya menceritakan perjalanan panjang lembaga yang kini telah membina 502 murid. Di bawah naungan yayasan, tersedia jenjang pendidikan lengkap mulai dari Madrasah Ibtidaiyah (MI), Sekolah Menengah Pertama (SMP), hingga SMA Integral Minhajut Thullab. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan bukti kepercayaan masyarakat yang terus tumbuh dari tahun ke tahun.
Puncak acara diisi dengan momen yang menggambarkan wajah baru pesantren masa kini: mandiri, produktif, dan kolaboratif. Sebagai wujud kemandirian ekonomi, pihak yayasan menyerahkan beras hasil olahan dan produksi sendiri dari UMKM Pondok kepada Wagub dan Bupati. Simbolisasi bahwa pesantren tidak hanya pandai dalam agama, tetapi juga mampu mengolah potensi ekonomi.
Selain itu, dilakukan penyerahan kitab karya pendiri pusat, KH. Thoha Mannan, serta ditandatanganinya nota kesepahaman kerja sama strategis antara pihak yayasan dengan Bank Sulawesi Tenggara. Kerja sama ini bertujuan mengembangkan potensi ekonomi dan tata kelola keuangan pesantren agar lebih sehat dan berdaya saing.
Di akhir acara, tersirat satu pesan yang sama dari kedua pemimpin daerah: Konawe Selatan dan Sulawesi Tenggara akan terus berdiri di belakang pesantren. Dukungan tak hanya soal anggaran, tetapi soal menjamin bahwa santri adalah pemimpin masa depan yang harus dipersiapkan sebaik mungkin. Di Minhajut Thullab, harapan itu kini tumbuh subur, didukung penuh oleh komitmen pemerintah yang kokoh.







