RAGAM  

Ketika Transmigrasi Menjadi Ladang Kemandirian: Kisah Pak Sanijo dari Alengge Agung

Penulis : Lulu Il Asshafa, Alumni Vokasi UI jurusan Hubungan Masyarakat

KONAWE SELATAN, Elindonews.idEmpat dekade berlalu, kawasan yang dulu berupa hutan dan rawa di Alengge Agung, Kecamatan Andoolo, Kabupaten Konawe Selatan, kini menjelma menjadi sentra pertanian produktif.

Lahan-lahan yang dahulu dibagikan sebagai lot perkebunan dan persawahan kini menjadi sumber penghidupan ratusan keluarga, bukti nyata keberhasilan program transmigrasi dalam menumbuhkan kemandirian masyarakat.

Dari Kulon Progo, Yogyakarta, Sanijo menjadi salah satu dari 76 kepala keluarga yang diberangkatkan pada tahun 1981 melalui program transmigrasi ke Alengge Agung.

Berbekal tekad dan fasilitas dasar dari pemerintah, ia memulai hidup baru di tanah yang kala itu masih sepi dan sulit diolah, sebuah perjalanan panjang yang kini membuahkan hasil nyata.

“Dulu kami berangkat dari Jogja naik pesawat, lalu dari Kendari ke sini pakai truk. Berangkat jam enam pagi, sampai di lokasi sudah Magrib,” tutur Sanijo saat ditemui Tim 15 Ekspedisi Patriot UI di kediamannya, Alengge Agung (4/10/2025).

Ia mengenang perjalanan panjang itu dengan senyum tipis, meski di baliknya tersimpan kegelisahan masa awal kedatangan.

“Tahun itu belum ada listrik, dan kami tiba sudah malam. Jadi tidak bisa melihat keadaan sekitar. Rasanya gelisah, tidak bisa tidur jelas. Pingin cepat-cepat tahu seperti apa tempat baru ini,” sambungnya.

Sanijo menjadi penggagas yang mengusulkan keluarganya mengikuti program ini.

“Waktu itu saya belum menikah, tapi berangkat sebagai kepala keluarga karena menggantikan bapak yang sudah almarhum,” ujarnya.

“Kami berangkat berempat saya, dua adik, dan ibu. Kami meninggalkan Jogja dengan harapan bisa hidup lebih baik,” lanjut dia.

Sanijo juga menceritakan bahwa di Jogja keluarganya tidak memiliki sawah maupun lahan yang bisa diolah, karenanya ia bertekad mengikuti program transmigrasi ini.

“Keluarga kami tidak memiliki sawah atau ladang yang bisa digunakan untuk bercocok tanam di Jogja. Jadi bersyukur sekali mengikuti program ini, meskipun saya harus babat hutan dan mengurug tanah ini, karena dulunya rawa.” ceritanya kepada tim yang diketuai oleh Dian Sulistyowati ini.

Sanijo juga menyebutkan fasilitas yang didapatkannya dari pemerintah pada saat itu, mulai dari pemberian rumah papan 5×7 meter yang masih beralaskan tanah, kemudian mendapatkan ¼ hektar pekarangan, mendapatkan lahan 1 seluas satu hektar, dan lahan dua seluas tiga per empat hektar.

“Selain lahan seluas 2 hektar, kami juga mendapatkan jatah hidup selama satu tahun, ada bantuan beras, garam, ikan asin, minyak, gula, garam.” jelasnya.

Dengan ketekunan dan semangat kerja keras, Sanijo membuka lahan pertanian secara mandiri.

Ia menanam padi gogo, lalu beralih ke kedelai dan kapas. Pada tahun 1984, hasil panen kedelainya mencapai 1,5 ton dan capaian panen itulah yang mengubah kehidupan keluarganya dan menjadi titik awal swasembada pangan di kawasan itu.

Kini, lahan seluas dua hektar milik Sanijo telah berkembang menjadi ladang produktif yang ditanami kakao dan kelapa hibrida. Ia juga bercerita bahwa dulu pernah memelihara sapi, bantuan presiden era Soeharto yang menjadi simbol keberlanjutan program transmigrasi.

“Kalau pemerintah sudah memberi fasilitas, ya harus kita optimalkan. Sisanya tanggung jawab kita sendiri,” ujar Sanijo.

Semangat kemandirian ini juga tercermin dalam kehidupan sosial masyarakat Alengge Agung. Beragam suku Jawa, Bali, hingga Lombok yang hidup berdampingan dengan tingkat toleransi yang tinggi. Warga saling bahu-membahu menjaga keamanan dan membangun desa tanpa memandang latar belakang.

“Kami di sini sudah seperti keluarga besar. Kalau ada yang butuh bantuan, semua turun tangan,” tambahnya.

Transformasi Alengge Agung membuktikan bahwa transmigrasi bukan sekadar relokasi penduduk, melainkan proses pembelajaran sosial tentang kerja keras, rasa syukur, dan tanggung jawab terhadap tanah yang dikelola. Sebelum tim berpamitan, Sanijo juga menyampaikan akses jaringan internet yang masih belum bagus di Desa Alengge Agung.

“Padahal jarak dengan kota dekat, tapi di sini jaringan internet masih belum bagus.” tuturnya.

Program yang dulu bertujuan membuka lahan baru kini telah melahirkan masyarakat mandiri dan produktif. Dari rawa menjadi ladang, dari penerima bantuan menjadi pelaku pembangunan, kisah seperti yang dialami Sanijo menjadi bukti bahwa kemandirian adalah hasil ketekunan, bukan pemberian.

Transmigrasi di Indonesia memang menawarkan peluang baru bagi banyak keluarga untuk memulai kehidupan yang berbeda. Namun, perjalanan ini tidak selalu mulus dan penuh tantangan.

Banyak dari mereka yang harus berjuang keras menghadapi kondisi alam yang keras, membangun perkampungan dari nol, dan menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial yang baru.

Cerita-cerita seperti di Alengge Agung menggambarkan bagaimana transmigrasi bukan sekadar perpindahan fisik, tetapi juga ujian ketahanan dan adaptasi.

Transmigrasi mencerminkan usaha bangsa yang kompleks untuk menata pembangunan dan memperbaiki distribusi penduduk, sekaligus menjadi pengingat bahwa proses tersebut membutuhkan dukungan berkelanjutan dari berbagai pihak untuk benar-benar membawa perubahan yang berkelanjutan.